Kembali
16
1
2023 Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 2 · 1 ISSN 2962-9780

Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat

Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura; Universitas Tanjungpura

Abstrak

Inklusi sosial adalah sebuah proses dalam mengembangkan kapasitas bagi individu dan kelompok untuk ikut serta berperan dalam masyarakat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana bentuk kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, faktor yang mendukung, dan kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengambilan data pada penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan teknik dokumenter. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Teknik keabsahan data menggunakan meningkatkan ketekunan, triangulasi, mengadakan membercheck. Hasil penelitian menunjukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat mengadakan kegiatan Perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan dua strategi yaitu peningkatan layanan informasi dan pelibatan masyarakat. Faktor yang mendukung kegiatan perpustakaan berbasis inklusis sosial yaitu anggaran, sumber daya manusia dan, mengikuti perkembangan teknologi. Kendala yang dihadapi adalah masyarakat dan anggaran.

Abstract

Social inclusion is a process of developing capacities for individuals and groups to participate in society. The purpose of this research was conducted to find out how the form of social inclusion-based library transformation activities, the supporting factors, and the constraints faced. This research uses a descriptive method with a qualitative approach. Methods of data collection in this study using observation, interviews, and documentary techniques. Data analysis techniques using data reduction, data presentation, and conclusions. Data validation techniques using increasing persistence, triangulation, holding member checks. The results showed that the Library and Archives Service of West Kalimantan Province held library activities based on social inclusion with two strategies, namely increasing information services and involving the community. Factors that support social inclusion-based library activities are budget, human resources and, following technological developments. The obstacles faced are the community and the budget.
Keywords: Social Inclusion · Library · Transformation

Introduction

Kehidupan sosial masyarakat luas ini semakin canggih, ditandai dengan adanya bermacam tingkat kebutuhan yang sifatnya instan akibat terjadinya sebuah gagasangagasan baru. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena mengingat adanya hal tersebut terjadi. Perpustakaan harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dalam manajemen dan teknologi pengelola informasi agar fungsi perpustakaan dapat berjalan denegan baik sebagai informasi pada lingkup masyarakat. Inklusi menjadi salah satu bentuk dalam transformasi layanan perpustakaan. Pada era digital, perpustakaan telah bertransformasi inklusi sosial dengan tujuan untuk mengikuti arah perkembangan zaman dengan perubahan menjadi tempat berkegiatan masyarakat agar terbentuknya sumber daya manusia yang memiliki kemajuan. Inklusi sosial adalah proses perkembangan martabat dan kesempatan untuk seluruh masyarakat agar mereka dapat berpartisipasi atau mengambil kapasitas dalam masyarakat dengan baik. Konsep inklusi sosial hadir dari suatu isitilah yang biasa disebut juga dengan eksklusi sosial yang dimana kondisi masyarakat yang merasa dirinya sendiri berbeda dari masyarakat yang ada. Konsep ini membentuk masyarakat sehingga bisa terbuka dengan masyarakat lainnya dan mengembangkan partisipasi dalam bermasyarakat (Bank dunia, 2013). Perpustakaan berbasis inklusi sosial ialah sebuah perpustakaan yang menyediakan ruang bagi masyarakat dan membantu meningkatkan keandalannya dengan melihat keanekaragaman budaya bangsa, keinginan untuk memperoleh sebuah perubahan dan memberikan peluang kepada masyarakat untuk lebih banyak berkarya. Seperti keinginan untuk kesejahteraan dalam bersosialisasi yang sekarang dipermudah dengan adanya layanan transformasi berbasis inklusi sosial pada perpustakaan yang mengadakan sistem pelayanan yang dapat menguatkan literasi bagi masyarakat agar meningkatkan kesejahteraan masyarakat (Kusuma, 2018). Jika dikaitkan dengan pengertian transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, maka pengertiannya ialah sebuah perubahan yang bertujuan untuk menguatkan literasi bagi masyarakat serta suatu proses informasi agar dapat kesejahteraan masyarakat. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat ialah contoh dimana perpustakaan ini membentuk perpustakaan yang melakukan transformasi inklusi sosial. Strategi yang digunakan yaitu peningkatan pelayanan informasi, pelibatan masyarakat, dan advokasi. Perpustakaan ini telah melakukan berbagai kegiatan di perpustakaan untuk mendukung masyakarat menjadi lebih sejahtera. 2. Tinjauan Pustaka Perpustakaan Umum Undang-undang RI nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan pada bab 1 pasal 1 memaparkan jika, perpustakaan umum disediakan untuk masyarakat luas sebagai media pembelajaran tanpa membedakan dari segi umur, ras, suku, agama, jenis kelamin dan kapasitas sosialnya. Selanjutnya, didalam peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 menyatakan, Perpustakaan ialah institusi pengelolaan yang dilakukan secara profesional pada koleksi sepertikarya ilmiah, karya cetak, karya rekam sehingga dapat melengkapi kepentingan informasi, pendidikan, pelestarian, pengamatan dan juga rekreasi bagi masyarakat yang berkunjung. Maheswara (2022), perpustakaan umum ialah sebuah bangunan berbentuk gedung untuk menyimpan bahan koleksi yang bervariasi yang disediakan untuk setiap masyarakat. Setiap masyarakat yang memerlukan informasi, bisa berkunjung ke perpustakaan. Perpustakaan umum dapat disebut juga sebagai pihak yang berperan besar dalam mencerdaskan dan mengembangkan generasi bangsa. Junaeti (dalam Maheswara 2022) berpendapat bahwa perpustakaan memiliki fungsi strategis dalam mengembangkan kecerdasan generasi muda di semua negara maju maupun negara berkembang dan berperan juga sebagai sarana yang memperoleh informasi, teknologi kesenian dan budaya dan segala perkembangan terbaru tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Inklusi Sosial Inklusi sosial adalah sebuah proses dalam mengembangkan kapasitas bagi individu dan kelompok untuk ikut serta berperan dalam masyarakat. Seperti yang di sampaikan Ra’is (2017), Inklusi sosial dikembangkan oleh Bank Dunia sebagai sebuah proses bagi individu ataupun kelompok agar dapat ikut serta berperan dalam masyarakat sejahtera. Hal-hal yang harus dimiliki pustakawan untuk membangun dan meningkatkan layanan berbasis inklusi sosial: 1. Memahami teknologi informasi dan komunikasi agar menunjang pemustaka dalam memanfaatkan fasilitas yang ada dan bagaimana mengiring masyarakat secara pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. 2. Mempunyai rancangan untuk meningkatkan perpustakaan dengan adanya pengembangan internet dan komputer. Internet membantu masyarakat untuk menghasilkan informasi yang terbaru dengan cukup jelas dan cepat. Transformasi Perpustakaan Purwono (dalam Khafidlin 2015), berpendapat bahwa arti transformasi perpustakaan Secara harfiah adalah “perubahan rupa”. Sedangkan perpustakaan ialah lembaga yang mencakup unsur koleksi informasi, penyimpanan dan pengolahan. Jadi dapat disimpulkan transformasi perpustakaan merupakan satu diantara perubahan bentuk dalam unsur yang ada pada perpustakaan. Endang Fatmawati (2013), menyatakan bahwa transformasi Perpustakaan memiliki arti sebuah proses dimana unsur perpustakaan berubah ke arah yang lebih baik seperti: 1. Transformasi dari budaya baca semula menjadi budaya baca dan tulis. 2. Transformasi dari perpustakaan sumber daya fisik menjadi perpustakaan berbasis pengetahuan. 3. Transformasi dari orientasi penyediaan koleksi fisik ke elektronik. 4. Transformasi perpustakaan yang mandiri menjadi kolaborasi membangun. 5. Tranformasi pada bahan koleksi yang ada di yang pada awalnya menggunakan kertas menjadi tidak menggunakan kertas. 6. Tranformasi terhadap pandangan ahli kepustakawanan menjadi sebuah studi ilmu disipliner yang dari berbagai ilmu. Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Perpustakaan berbasis inklusi ialah perubahan pada perpustakaan dengan tujuan menguatkan literasi bagi masyarakat. transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial memiliki tujuan agar terwujudnya Sumber Daya Manusia yang berdaya saing serta teknologi tepat guna dan dapat menciptakan kesejahteraan bagi kehidupan masyarakat di masa teknologi digital saat ini (Diana, 2022). 1. Tujuan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Pada kebutuhan, menunjukan bahwa dalam meningkatkan beragam kebutuhan adalah premis yang harus dipikirkan dengan tepat. Aturan ini dapat diketahui apakah administrator dapat meninjau kebutuhan dari transformasi agar terciptanya masyarakat yang sejahtera dengan tujuan khusus mengembangkan kadar layanan pada perpustakaan serta meningkatkan kegunaan layanan dari masyarakat sesuai keperluan untuk masyarakat dalam membangun komitmen perubahan pada perpustakaan selanjutnya. 2. Bentuk-bentuk Kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Kegiatan pada transformasi perpustakaan ini dapat mengembangkan wawasan serta ilmu pengetahuan bagi masyarakat serta membantu mensejahterakan masyarakat seperti memfasilitasi kebutuhan masyarakat dengan referensi bahan pustaka dan internet untuk menyediakan informasi melalui aplikasi kegiatan dengan melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. Dimasa pandemi ini kegiatan yang bisa dilakukan oleh perpustakaan bersama masyarakat adalah dengan pembuatan masker yang hasilnya di bagikan oleh masyarakat untuk masyarakat. Transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ialah suatu kegiatan yang membuat aspirasi masyarakat terhubung dengan mendorong kesejahteraan. Perpustakaan didirikan untuk memfasilitasi kebutuhan serta keterampilan yang ada pada masyarakat agar mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dalam perkembangan dunia dengan melaksanakan kegiatan sosialisasi, pelatihan menganyam produk-produk dari tumbuhan daun pandan dilakukan bersama kelompok pengrajinnya. Kegiatan tersebut adalah sebuah implementasi dari pelatihan dalam mengembangkan strategi perpustakaan berbasis inklusi sosial (Kurniasih dan Saefullah, 2021).

Method

Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berupaya merancang objek serta subjek dari sesuatu yang di teliti secara luas dan terperinci (Laily, 2022). Kualitatif ialah pelindung dari metode pendekatan dari penelitian yang diterapkan untuk mengamati kehidupan sosial secara alamiah. penelitian kualitatif, memperoleh informasi yang telah dianalisis secara non kuantitatif, informasi tersebut seperti hasil wawancara, catatan lapangan serta dokumen-dokumen tentang kehidupan secara individual atau kelompok (Sugiyono dan Mitha, 2021).

Result & Discussion

Bentuk Kegiatan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat Dinas perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat telah menerapkan kegiatan inklusi sosial yang berdasarkan dari peningkatan layanan informasi dan pelibatan masyarakat. Sesuai dengan pernyataan Kurniasih (2021) yang menyatakan bahwa, bentuk transformasi layanan yang dilaksanakan di perpustakaan dapat dilakukan dengan membawa masyarakat untuk menjelajahi kegiatan-kegiatannya dalam rangka memberdayakan masyarat dalam mengembangkan kualitas hidup yang lebih sejahtera. 1. Strategi Peningkatan Layanan Informasi Salah satu strategi peningkatan layanan informasi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat adalah melalui tersedianya akses internet. Sesuai dengan pernyataan Putra (2017), dengan menggunakan internet siapapun bisa mendapatkan informasi secarayak macam informa efisien karena dapat diperoleh dimanapun dan kapanpun dengan informasi yang bermacam ragam dari internet. Dapat disimpulkan jika, layanan internet sangat penting untuk mendapatkan informasi yang ada dan memperluas pengetahuan mereka untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang ada diadakan perpustakaan. 2. Strategi Pelibatan Masyarakat Dinas perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat telah mengadakan sosialisasi kepada masyarakat dalam program pusat yang dimana tujuannya untuk meningkatkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) karena program tersebut juga tumpuan sebagai program prioritas Nasional. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat ini sudah bersosialisasi di berbagai daerah serta telah bekerja sama dengan Pemerintah, Provinsi. Kabupaten, Desa dan Kelurahan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam strategi ini adalah membuat masker, membuat kerajinan tangan, pelatihan. Peneliti akan memaparkan secara mendalam digital marketing, pelatihan komputer dasar. Sesuai dengan pernyataan Ramadhani (2022) yang menyatakan bahwa, sosialisasi itu penting dengan adanya sosialisasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dapat memperluas segala akses informasi dengan penguatan literasi agar terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa bentuk kegiatan dalam Perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Perpustakaan telah mengadakan sosialisasi dan berbagai macam kegiatan di lapangan yang bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat melalui program prioritas nasional. Faktor yang Mendukung Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat 1. Anggaran Anggaran sangat dibutuhkan dalam perkembangan kegiatan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat. Sesuai dengan pernyataan Anggara (2022) yang menyatakan Anggaran ialah salah satu hal yang sangat diperlukan bagi setiap perusahaan dengan tujuan untuk mencapai seluruh kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan. Jadi, dengan adanya anggaran maka suatu kegiatan dapat mencapai suatu tujuan yang selaras dan menjadi alat ukur untuk semua pihak ketika melakukan perencanaan sebuah program. 2. Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia berperan penting dalam perubahan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial karena diperlukannya tenaga manusia sebagai penggerak dalam suatu kegiatan agar berhasilnya suatu kegiatan. Laksono (2018) berpendapat sumber daya manusia adalah metode pendekatan yang sangat strategis agar keterampilan dan motivasi dalam organisasi sumber daya manusia mengalami peningkatan. Pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat semua petugas perpustakaan ikut serta dalam berjalannya kegiatan ini. 3. Mengikuti Perkembangan Teknologi Informasi Sesuai dengan pernyataan Himmah dan Azisi (2019) mengatakan bahwa, sangat dibutuhkan suatu kecerdasan teknologi untuk menyikapi kemajuan perpustakaan. Pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan terdapat tiga faktor yang mendukung dalam transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial, ketiga faktor tersebut berkerjasama dalam membangun suatu perubahan yang mendukungnya suatu program perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Dinas Peprustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat. Kendala yang Dihadapi dalam Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat 1. Masyarakat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat telah melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kemauan masyarakat mengikuti kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini. Namun, setiap masyarakat memiliki pikiran yang berbeda-beda sehingga ada yang tergerak untuk ikut serta dalam kegiatan dan ada juga yang pikiran nya belum sampai pada kegiatan tersebut sehingga tidak tergerak untuk ikut serta dalam kegiatan. 2. Anggaran Purwanto (2016) berpendapat, dengan adanya anggaran usaha usaha yang di siapkan lebih baik lagi jika ditunjang oleh kebijakan yang jelas serta dibantu oleh perencanaan yang matang. Sedangkan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat memiliki kendala terhadap anggaran tersebut sehingga jika membuat suatu kegiatan, harus memiliki anggaran agar kegiatan tersebut berjalan dengan semestinya seperti yang dijelaskan oleh pustakawan yang ada di perpustakaan. Seperti kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Dinas perpustakaan telah disampaikan oleh pustakawan yang ada di perpustakaan tersebut bahwa anggaran harus ada di sediakan untuk perpustakaan,

Conclusion

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat telah mengadakan suatu kegiatan Perpustakaan berbasis inklusi sosial. Inklusi sosial memiliki dua strategi yaitu strategi peningkatan layanan informasi dan strategi pelibatan masyarakat. pada strategi layanan informasi ini perpustakaan telah menyediakan akses layanan internet yang sudah di dukung oleh sistem manajemen perpustakaan. Sedangkan pada strategi pelibatan masyarakat perpustakaan telah mengajak masyarakat melakukan kegiatan inklusi sosial yaitu, membuat masker, membuat kerajinan tangan, pelatihan digital marketing, pelatihan komputer dasar. Dalam kegiatan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial pada Dinas perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Barat, memiliki beberapa faktor yang mendukung yaitu anggaran, sumber daya manusia dan, mengikuti perkembangan teknologi. Suatu kegiatan sangat dibutuhkannya anggaran agar kegiatan tersebut berjalan dengan lancar dan kegiatan ini juga di perlukan sumber daya manusia agar dapat dijadikan kunci suatu program. Terdapat dua kendala yang dihadapi dalam kegiatan yang diadakan, Kendala yang pertama ialah masyarakat. Setiap manusia memiliki pola pikir yang berbeda sehingga masih ada masyarakat yang belum tergerak hatinya untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh perpustakaan dalam perpustakaan berbasis inklusi sosial ini. Kedua, kendala yang dihadapi yaitu anggaran. Kurangnya Anggaran saat Dinas Perpustakaan menlaksanakan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial.